Jurnal Borneo Administrator http://www.samarinda.lan.go.id/jba/index.php/jba <p>Jurnal Borneo Administrator (JBA) is a journal that dedicated to publishing and disseminating the results of research and development in public administration area.</p> <p>The scope of this journal covers experimental and analytical research in public administration areas. The topics include public policy, public management, bureaucracy, public service, civil servant, public service innovation, local autonomy, and related fields.</p> PKP2A III Lembaga Administrasi Negara en-US Jurnal Borneo Administrator 1858-0300 <h4>Policy for Journals That Offer Open Access</h4><span>Authors who publish with this journal agree to the following terms:</span><br /><br /><ol type="a"><ol type="a"><li>Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a <a href="http://creativecommons.org/licenses/by/3.0/" target="_new">Creative Commons Attribution License</a> that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.</li></ol></ol><br /><ol type="a"><ol type="a"><li>Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.</li></ol></ol><br /><ol type="a"><ol type="a"><li>Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See <a href="http://opcit.eprints.org/oacitation-biblio.html" target="_new">The Effect of Open Access</a>).</li></ol></ol> Front Cover JBA Vol. 13 No. 1 2017 http://www.samarinda.lan.go.id/jba/index.php/jba/article/view/277 cover jba 13 ##submission.copyrightStatement## 2017-09-11 2017-09-11 13 1 10.24258/jba.v13i1.277 Preface JBA Vol. 13 No. 1 2017 http://www.samarinda.lan.go.id/jba/index.php/jba/article/view/278 Salam Redaksi ##submission.copyrightStatement## 2017-09-11 2017-09-11 13 1 10.24258/jba.v13i1.278 Membangun Model Pelayanan Publik Desa : Mendekatkan Pelayanan Masyarakat di Tingkat Lokal http://www.samarinda.lan.go.id/jba/index.php/jba/article/view/272 <p>Construction of village’s public service model is imperative since village has more authorities as has been mandated by Law Number 6 of 2014 concerning the village. The authorities allow village government to prepare RPJMDes, APBDes, and village planning independently. Therefore, village has wider opportunities to improve its services in accordance with its nature and characteristics. In rural public service perspective, it is necessary to develop a public service model. This study concludes several things: (1) Classification, types and numbers of village services are different; (2) The village’s services are mostly in the form of recommendations at first level which then should be completed at higher levels at sub district and disctrict<br />agencies; (3) To improve the quality of village’s services, they are classified into three groups, namely: (a) recommendation letter; (b) citizenship services; and (c) rural community empowerment. Furthermore, the recommended model is a dispersed model because village service is a part of public service system at sub<br />district and disctrict levels. However, only a small part of the public services are fully completed at village government, such as administrative service.</p><p><br />Keywords: Capacity building, public services, the village government</p><p>Pembangunan model pelayanan publik desa mendesak sejalan dengan meningkatnya kewenangan Pemerintahan Desa sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Pemerintahan desa berwenang menyusun RPJMDes, APBDes, serta menyusun rencana pembangunan tahunan secara mandiri. Dengan demikian, terbuka peluang untuk memperbaiki pelayanan publik sesuai dengan sifat dan karakteristik desa. Oleh karena itu, dalam perspektif pelayanan publik desa, perlu disusun model pelayanan publik desa sesuai dengan kewenangannya. Studi tentang pengembangan model pelayanan publik desa ini telah menghasilkan kesimpulan : (1) Klasifikasi, jenis dan jumlahnya masih berbeda-beda; (2) Secara umum pelayanan publik desa masih berupa pengantar atau rekomendasi dan penyelesaian pelayanannya berada di Kantor Kecamatan atau bahkan di Dinas Teknis Pemerintah Kabupaten/Kota; (3) Untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik desa, maka perlu dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (a) surat pengantar; (b) layanan kependudukan; dan (c) pemberdayaan masyarakat. Adapun model pelayanan publik desa yang direkomendasikan adalah model terpencar, mengingat pelayanan publik desa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem pelayanan publik Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Hanya sebagian kecil saja pelayanan publik desa yang betul-betul dapat diselesaikan di desa, yaitu surat pengantar.</p><p>Kata Kunci: Penguatan kapasitas, pelayanan publik, pemerintahan desa</p> Marsono Marsono ##submission.copyrightStatement## 2017-09-11 2017-09-11 13 1 1 20 10.24258/jba.v13i1.272 Evaluasi Dampak Pelaksanaan Program Pembinaan dan Pengembangan Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Ponorogo http://www.samarinda.lan.go.id/jba/index.php/jba/article/view/273 <p>This research is part of thesis that aims to evaluate the impact of the implementation program of development of small and medium industries in Ponorogo Regency, such as the impact of increasing the skills and improving the welfare of SMEs. The method used is descriptive qualitative evaluation. The evaluation results show that the program’s goals include increased skills not optimum. It is evident from the interviews that output of this program to increase the knowledge of SMES. But, because this knowledge is only basic level, where after joining the training, SMEs will find new information and knowledge, so the technical and management skills of SME entrepreneurs not increase properly. However, it should be noted that through the impact evaluation there is improvement of SME’s skills in the product quality. On the other hand, through impact evaluation the welfare improvement is not maximal yet in order to upgrade sales turnover. From the result of this evaluation, the lack of monitoring and evaluation causing the program has not been successful in achieving target. The monitoring and evaluation process are needed to analyze the problems and make some alternative solutions, so the regional development planning can be effective and efficient.</p><p>Keywords: Impact evaluation, SME development, welfare</p><p>Penelitian ini merupakan bagian dari tesis yang bertujuan untuk mengevaluasi dampak pelaksanaan program pembinaan dan pengembangan IKM di Kabupaten Ponorogo, berupa dampak peningkatan keterampilan danpeningkatan kesejahteraan IKM. Metode penelitian yang digunakan adalah evaluasi kualitatif deskriptif. Evaluasi hasil menunjukkan bahwa tujuan program berupa peningkatan keterampilan belum sepenuhnya optimal. Hal ini terlihat dari hasil wawancara bahwa output program ini berwujud terhadap peningkatan pengetahuan pengrajin IKM, yang merupakan tahap permulaan, dimana setelah mengikuti pelatihan menjadikan pengrajin IKM mendapatkan informasi dan pengetahuan baru, dan belum menunjukkan peningkatan keterampilan teknis maupun manajerial. Selanjutnya melalui evaluasi dampak terlihat adanya peningkatan keterampilan IKM berupa perbaikan kualitas dan mutu produk yang dihasilkan. Sedangkan melalui evaluasi dampak peningkatan kesejahteraan masih belum maksimal dalam upaya meningkatkan omzet penjualan. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, minimnya monitoring dan evaluasi menyebabkanprogram belum berhasil optimal dalam mencapai target. Perlunya proses monitoring dan evaluasi tersebut agar dapat dianalisis permasalahan dan menghasilkan alternatif solusi, sehingga perencanaan pembangunan daerah dapat berjalan secara efektif dan efisien.</p><p>Kata Kunci: evaluasi dampak, pengembangan IKM, kesejahteraan</p> Dina Trisiana Iskandar Sumartono Sumartono Tjahjanulin Domai ##submission.copyrightStatement## 2017-09-11 2017-09-11 13 1 21 40 10.24258/jba.v13i1.273 Kualitas Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Pada Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPPTPM) Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat http://www.samarinda.lan.go.id/jba/index.php/jba/article/view/274 <p>Public should receive an easy, fast, accurate, and secured services in getting any licenses they need. In order to that, the purposes of this research are to understand how the issue of building permit process is done, reveal the meaning of the whole phenomenon according to the public and the Government, and to know the obstacles or problems faced by BPPTPM Cianjur in West Java as the unit in charge of licensing areas. This research applied descriptive study with qualitative approach. From the results of the analysis, it could be concluded that the quality of licensing which is measured through four (4) dimensions: easiness, speed of service, accuracy, and security had not been going well yet. It happened because of some factors such as: unsolid organizational structure, imbalances of human resources in both quantitative as well as qualitative, inadequate and out of date infrastructure and technology, and complicated procedure.</p><p>Keywords : BPPTPM, IMB, Quality of Service</p><p>Dalam mengurus perizinan, publik seharusnya menerima pelayanan secara mudah, cepat, tepat, dan aman. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana proses pelayanan perizinan mendirikan bangunan dilakukan dan mengungkap makna pelayanan menurut publik dan pemerintah dan mengetahui kendala atau permasalahan yang dihadapi BPPTPMKabupaten Cianjur Jawa Barat sebagai penanggung jawab bidang perizinan.Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa kualitas perizinan mendirikan bangunan yang diukur melalui 4 (empat) dimensi yakni dimensi kemudahan, dimensi kecepatan, dimensi ketepatan, dan dimensi keamanan cenderung belum berjalan baik,hal demikian terjadi akibat faktor-faktor kendala yang mempengaruhi antara lain struktur organisasiyang belum solid, ketimpangan sumber daya manusia baik kuantitatif maupun kualitatif,daya dukung infrastruktur dan teknologi perkantoran yang kurang memadai dan tidak up to date, dan kerumitan prosedur yang belum terurai.</p><p>Kata kunci: Kualitas Pelayanan, IMB, BPPTPM</p> Nanang Suparman ##submission.copyrightStatement## 2017-09-11 2017-09-11 13 1 41 56 10.24258/jba.v13i1.274 Pengaruh Kepemimpinan, Budaya Organisasi, dan Lingkungan Kerja Serta Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Wilayah Kecamatan Kota Tarakan http://www.samarinda.lan.go.id/jba/index.php/jba/article/view/275 <p>The purpose of this study is to determine the significance of the influence of the leadership, organizational culture and work environment to employee performance and job satisfaction as an intervening variable. The research population is all employees in the District of the City of Tarakan, with a sample of 128 employees. Data analysis method used in this research is path analysis.The research findings show that leadership, organizational culture and work environment had positive and significant impact on employee performance. The second discovery revealed that the leadership, work environment and job satisfaction held significant positive effect on employee performance, whereas the organizational culture had significant negative effect on employee performance. Results of path analysis showed that:(1) Job satisfaction is proven as an intervening variable between leadership a direct influence on employee performance is more dominant than the indirect effect. (2) Job satisfaction is proven as an intervening variable indirect influence of organizational culture on employee performance is more dominant than the direct effect. (3) Job satisfaction is proven as an intervening variable indirect influence among the working environment is more dominant than the direct effect.</p><p>Keywords: Leadership, organizational culture, working environment, job satisfaction, employee performance</p><p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh signifikansi kepemimpinan, budaya organisasi dan lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai dan kepuasan kerja sebagai variabel antara. Populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai di Kecamatan Kota Tarakan, dengan sampel 128 pegawai. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis jalur. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan, budaya organisasi dan lingkungan kerja yang positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Penemuan kedua diketahui bahwa kepemimpinan, lingkungan kerja dan kepuasan kerja dan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pegawai, sedangkan budaya organisasi dan berpengaruh negatif terhadap kinerja pegawai. Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa: (1) Kepuasan kerja terbukti sebagai variabel antara variabel kepemimpinan pengaruh langsung terhadap kinerja pegawai lebih dominan daripada pengaruh tidak langsung. (2) Kepuasan kerja terbukti sebagai variabel antara pengaruh tidak langsung variabel budaya organisasi terhadap kinerja pegawai lebih dominan daripada berpengaruh langsung. (3) Kepuasan kerja terbukti sebagai variabel antara pengaruh tidak langsung variabel lingkungan kerja yang lebih dominan daripada berpengaruh efek langsung.</p><p>Kata kunci: Kepemimpinan, budaya organisasi, lingkungan kerja, kepuasan kerja, kinerja pegawai</p> Ana Sriekaningsih ##submission.copyrightStatement## 2017-09-11 2017-09-11 13 1 57 72 10.24258/jba.v13i1.275 Sebuah Pelajaran Dari Pelaksanaan Reformasi Pajak di Indonesia dan Vietnam http://www.samarinda.lan.go.id/jba/index.php/jba/article/view/276 <p>1997 Asian crisis brought ASEAN countries in condition where banking system damaged, GDP dropped and the exchange rate plunged. Taxation became ‘rescuer’ to overcome financial deficit and stable economy. Improvements in taxation are realized by tax reforms. In ASEAN, tax reforms have been undertaken since 1980s and they have significant contribution to increase tax revenue and to improve tax ratio. Specifically, we highlight Vietnam as the highest ratio and Indonesia as the lowest ratio. This paper explores the elements of innovation in tax reforms between Indonesia and Vietnam in order to seek the key of success factor of Vietnam in tax ratio. Our study found several interesting points. Firstly, tax reforms in Indonesia and Vietnam have similarity approaches, namely focusing on the policy and administration reforms. Secondly, for both countries, tax reforms have contributed in increasing tax revenue. Thirdly both countries highlight the role of tax reforms in enlarging the function of government in allocating state budget for social expenditure. Finally, we underscore the appreciation of government for society as taxpayers in the form of large allocation for public interests as a key success factor in increasing tax ratio in Vietnam.</p><p>Keywords: Tax reforms, phase of reforms, lesson of reform, tax revenue, tax ratio</p><p>Krisis di Asia pada tahun 1997 telah membawa negara-negara di ASEAN pada kondisi di mana sistem perbankan rusak, PDB turun dan nilai tukar mata uang jatuh. Perpajakan datang sebagai penyelamat untuk mengatasi krisis keuangan dan membuat perekonomian menjadi stabil. Perbaikan-perbaikan di sektor pajak diwujudkan melalui reformasi perpajakan. Di ASEAN, reformasi perpajakan telah dilaksanakan sejak tahun 1980 dan secara signifikan memberikan kontribusi untuk meningkatkan penerimaan pajak dan memperbaiki rasio pajak. Secara spesifik kami menggarisbawahi Vietnam sebagai negara dengan rasio pajak tertinggi dan Indonesia dengan rasio pajak terendah. Paper ini menggali elemen-elemen inovasi pada reformasi pajak di antara Indonesia dan Vietnam untuk mencari factor kunci kesuksesan rasio pajak di Vietnam. Studi kami menemukan beberapa poin penting. Pertama, reformasi pajak di Indonesia dan Vietnam mempunyai pendekatan yang sama yaitu fokus terhadap reformasi kebijakan dan administrasi. Kedua, bagi kedua negara, reformasi pajak telah berperan dalam meningkatkan penerimaan pajak. Ketiga, kedua negara menggarisbawahi peran reformasi pajak dalam meningkatkan fungsi negara dalam pengalokasian keuangan negara untuk pengeluaran sosial. Terakhir, kami mencatat penghargaan pemerintah terhadap masyarakat sebagai pembayar pajak dalam bentuk alokasi dana yang besar untuk kepentingan masyarakat sebagai faktor kunci kesuksesan peningkatan rasio pajak di Vietnam.</p><p>Kata Kunci: Reformasi pajak, tahapan reformasi, pelajaran dari reformasi, penerimaan pajak, rasio pajak</p> Abdul Rahman ##submission.copyrightStatement## 2017-09-11 2017-09-11 13 1 73 88 10.24258/jba.v13i1.276